Senin, 21 November 2011

BAB 3. ANCAMAN TERHADAP TERUMBU KARANG DI ASIA TENGGARA

Terumbu karang di Asia Tenggara adalah yang paling terancam di dunia. Seperti halnya pada
semua terumbu karang di dunia, mereka menerima pengaruh dari badai dan fenomena
alam lainnya. Akan tetapi, peledakan populasi penduduk di wilayah Asia Tenggara telah
menempatkan terumbu karang pada tekanan yang belum pernah dialami sebelumnya. Stres yang
dialami dapat bersifat kronis. Sebagai contoh adalah pembuangan limbah secara terus menerus,
sedimentasi yang sering terjadi, serta penangkapan ikan berlebihan dalam kurun waktu panjang. Stres
dapat pula bersifat akut, contohnya pada kasus pengeboman ikan, atau kenaikan suhu air laut yang
tidak biasa dalam satu bulan. Dalam beberapa kasus, terumbu karang dapat beradaptasi terhadap
stres yang kronis, namun tekanan berkepanjangan akan menghambat pemulihan dari stres yang akut,
dan menurunkan tingkat keanekaragaman hayati.
Selama 20 tahun terakhir, pemutihan karang
akibat suhu air laut yang tidak normal telah menjadi ancaman yang dominan. Bab ini menelaah lima
ancaman yang tergabung di dalam model
Terumbu Karang yang Terancam (TKT), dan
membahas pola umum pemutihan karang di
Asia Tenggara.

PEMBANGUNAN DI WILAYAH PESISIR
Wilayah pesisir yang tidak dikelola dengan baik dapat mengancam keselamatan terumbu karang akibat sedimentasi dan pencemaran perairan laut. Pengerukan, reklamasi, penambangan pasir, pembuangan limbah padat dan cair, dan konstruksi bangunan, semuanya dapat mengurangi pertumbuhan karang; bahkan menyebabkan pemutihan karang dalam kasus-kasus yang berat. Ancaman terhadap terumbu karang akibat pembangunan wilayah pesisir dianalisis berdasarkan jarak ke pusat pemukiman penduduk, luas area pusat pemukiman, tingkat pertumbuhan penduduk, dan jarak ke pangkalan udara, pertambangan, fasilitas pariwisata, dan pusat fasilitas selam. Hasil analisis menunjukkan 25% terumbu karang di kawasan ini terancam oleh pembangunan pesisir.

PENCEMARAN DARI LAUT
Aktivitas di laut yang mengancam terumbu karang antara lain pencemaran dari pelabuhan, tumpahan minyak, pembuangan bangkai kapal, pembuangan sampah dari atas kapal, dan akibat langsung dari pelemparan jangkar kapal. Analisis TKTAT terhadap ancaman akibat pencemaran dari laut, didasarkan pada lokasi jalur perkapalan utama dan infrastruktur pertambangan minyak. Hasil analisis menunjukkan 7% terumbu karang di kawasan ini terancam oleh pencemaran dari laut.

SEDIMENTASI DAN PENCEMARAN DARI DARAT
Penebangan hutan, perubahan tata guna lahan, dan praktek pertanian yang buruk, semuanya menyebabkan peningkatan sedimentasi dan masuknya unsur hara ke daerah tangkapan air. Sedimen dalam kolom air dapat sangat mempengaruhi pertumbuhan karang, atau bahkan menyebabkan kematian karang. Kandungan unsur hara yang tinggi dari aliran sungai dapat merangsang pertumbuhan alga yang beracun. Keadaan ini mendorong pertumbuhan alga lain yang tidak saja memanfaatkan energi matahari tetapi juga menghambat kolonisasi larva karang dengan cara menumbuhi substrat yang merupakan tempat penempelan larva karang. Untuk mengestimasi faktor sedimentasi di wilayah terumbu karang, proyek TKTAT terlebih dahulu mengestimasi tingkat erosi dari daratan berdasarkan kemiringan lahan, tipe tutupan lahan, curah hujan, dan jenis tanah. Tingkat erosi relatif digabungkan dengan besarnya daerah tangkapan air, digunakan untuk mengestimasikan sedimen yang dilepaskan ke muara sungai. Dispersi sedimen dimodelkan menjadi fungsi matematis, dimana sedimen yang terkandung akan berkurang seiring bertambahnya jarak dari sumber. Sedimen dan pencemaran dari aktivitas di darat diperkirakan telah mengancam 21% terumbu karang di kawasan ini.

PENANGKAPAN IKAN SECARA BERLEBIHAN
Penangkapan ikan secara berlebihan memberikan dampak perubahan pada ukuran, tingkat kelimpahan, dan komposisi jenis ikan. Hal itu disebabkan ikan turut berperan di dalam mencapai keseimbangan yang harmonis di dalam ekosistem terumbu karang. Penangkapan besar-besaran akan menyebabkan terumbu karang menjadi rapuh terhadap gangguan dari alam maupun gangguan dari kegiatan manusia. Tanpa ikan-ikan dan hewan-hewan avertebrata laut, maka populasi karang akan digantikan oleh populasi alga yang mencegah penempelan dan pertumbuhan larva karang pada substrat. TKTAT membuat indikator yang mengevaluasi tekanan pada perikanan karang oleh masyarakat lokal dalam jarak 10 km di wilayah pesisir, dan mengevaluasi tekanan akibat penangkapan ikan secara berlebihan di luar 20 km dari garis pantai. Penangkapan berlebih yang tersebar luas di Asia Tenggara, diperhitungkan mengancam 64% terumbu karang di kawasan tersebut.

PENANGKAPAN IKAN DENGAN CARA YANG MERUSAK
Penangkapan ikan dengan menggunakan racun dan pengeboman ikan merupakan praktek yang umum dilakukan, yang memberikan dampak sangat negatif bagi terumbu karang. Penangkapan ikan dengan racun akan melepaskan racun sianida ke daerah terumbu karang, yang kemudian akan membunuh atau membius ikan-ikan. Karang yang terpapar sianida berulang kali akan mengalami pemutihan dan kematian. Pengeboman
ikan dengan dinamit atau dengan racikan
bom lainnya, akan dapat menghancurkan
struktur terumbu karang, dan membunuh
banyak sekali ikan yang ada di
sekelilingnya. Proyek TKTAT
mengevaluasi ancaman dari penangkapan
ikan menggunakan racun dan bom
dengan cara menggabungkan peta-peta
daerah penangkapan ikan di mana kedua
metode tersebut dipraktekkan, atau
berdasarkan data yang pernah tercatat.
Praktek-praktek ini telah mengancam
56% terumbu karang di kawasan Asia
Tenggara.

PEMUTIHAN KARANG
Perubahan iklim global juga menyebabkan
ancaman yang signifikan terhadap
terumbu karang di Asia Tenggara.
Peningkatan suhu permukaan laut telah
menyebabkan pemutihan karang yang
lebih parah dan lebih sering. Peristiwa
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
tahun 1997-1998 telah memicu peristiwa
pemutihan karang yang terbesar
sepanjang sejarah. Diperkirakan 18%
terumbu karang kawasan Asia Tenggara
telah rusak atau hancur.

0 komentar:

Poskan Komentar